Latest Releases

Legalisasi Ganja Di Dunia

Ganja Bukan Narkoba
Legalisasi Ganja
 Legalisasi Ganja
    
Rasta atau ganja, biasanya dikenal sebagai “ramuan”, “gulma”, “sinsemilla” (bahasa Spanyol untuk “tanpa biji”) atau “ganja” (dari kata Sansekerta, “Ganjika”, digunakan di India kuno), adalah rohani bertindak, sering disertai dengan studi Alkitab, mereka menganggapnya sebagai sakramen yang membersihkan tubuh dan pikiran, menyembuhkan jiwa, meninggikan kesadaran, memfasilitasi kedamaian, membawa kesenangan, dan membawa mereka lebih dekat ke Jah. Mereka sering membakar rempah saat yang membutuhkan wawasan dari Jah. Pembakaran dari ramuan sering dikatakan penting “untuk itu akan menyengat dalam hati orang-orang yang mempromosikan dan melaksanakan kejahatan dan kesalahan.” Pada abad ke-8, ganja telah diperkenalkan oleh pedagang Arab ke Tengah dan Afrika Selatan, di mana ia dikenal sebagai “dagga” dan Rastas banyak yang mengatakan itu adalah bagian dari budaya Afrika mereka bahwa mereka adalah reklamasi. Hal ini kadang-kadang juga disebut sebagai “penyembuhan bangsa”, sebuah ungkapan diadaptasi dari Wahyu 22:02.

Migrasi dari ribuan orang Hindu dari India ke Karibia di abad ke-20 mungkin telah membawa budaya ini ke Jamaika. Banyak akademisi arahkan ke asal Indo-Karibia untuk sakramen ganjah akibat impor buruh migran India dalam penghapusan-posting landscape Jamaika. “Menggunakan skala besar ganjah di Jamaika … tanggal dari impor diwajibkan India …”( Campbell 110). Berambut gimbal mistik JATA, sering pertapa, dikenal sebagai Sadhus dan / atau Qalandars Sufi, merokok ganja di Asia Selatan selama berabad-abad.

Menurut Rastas banyak, ilegalitas ganja di banyak negara adalah bukti bahwa penganiayaan terhadap Rastafari adalah kenyataan. Mereka tidak terkejut bahwa itu adalah ilegal, dan melihatnya sebagai zat kuat yang membuka pikiran orang terhadap kebenaran – sesuatu sistem Babel, mereka beralasan, jelas tidak mau. Mereka kontras untuk obat alkohol dan lainnya, yang mereka merasa menghancurkan pikiran.

Mereka berpendapat bahwa merokok ganja menikmati sanksi Alkitab, dan merupakan bantuan untuk meditasi dan ketaatan agama. Di antara ayat-ayat Alkitab Rastas kutipan sebagai membenarkan penggunaan ganja:

  • Kejadian 1:11 “Dan Tuhan berkata, Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput, biji rempah menghasilkan, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah dengan tabiatnya, yang benih itu sendiri, di bumi: dan jadilah demikian.” 
  • Kejadian 1:29 “Dan Tuhan berkata, Lihatlah, Aku telah memberikan kamu segala benih rempah-bearing, yaitu pada saat seluruh muka bumi, dan setiap pohon, di dalam yang merupakan buah dari biji pohon yang menghasilkan, untuk Anda Hal itu harus menjadi daging. ” 
  • Kejadian 3:18 “… engkau akan memakan ramuan lapangan.” 
  • Mazmur 104:14 “Ia causeth rumput untuk tumbuh untuk ternak, dan herbal untuk melayani manusia.” 
  • Amsal 15:17 “Lebih baik adalah makan malam jamu di mana cinta, dari pada lembu beserta mogok dan kebencian.” 
  • Wahyu 22:02 “sungai kehidupan terus mengalir dari tahta Allah, dan di kedua sisi bank ada pohon kehidupan, dan daun dari pohon itu adalah untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”

Menurut beberapa Rastafari dan sarjana lain, etimologi dari “ganja” kata dan istilah yang serupa dalam semua bahasa-bahasa Timur Dekat dapat ditelusuri ke “bosm qaneh” Ibrani, yang merupakan salah satu ramuan Allah memerintahkan Musa untuk memasukkan dalam nya persiapan parfum urapan suci dalam Keluaran 30:23; istilah Ibrani juga muncul dalam Yesaya 43:24, Yeremia 6:20; Yehezkiel 27:19, dan Kidung Agung 4:14. Deuterokanonika dan referensi kanonik untuk para leluhur Adam, Nuh, Ibrahim dan Musa “membakar dupa di hadapan Tuhan” juga diterapkan, dan banyak Rastas hari ini mengacu ganja oleh “ishence” istilah – bentuk yang sedikit berubah dari “dupa” kata Inggris . Hal ini juga mengatakan bahwa ganja adalah tanaman pertama yang tumbuh di makam Raja Salomo.

Pada tahun 1998, lalu-Jaksa Agung Amerika Serikat Janet Reno, memberikan pendapat hukum yang Rastafari tidak memiliki hak untuk merokok ganjah agama yang melanggar hukum obat Amerika Serikat ‘. Posisi ini sama di Inggris, di mana, dalam hal Pengadilan Tinggi R. v. Taylor [2002] 1 Cr. App. R. 37, itu menyatakan bahwa larangan Inggris pada penggunaan ganja tidak bertentangan dengan hak untuk kebebasan beragama diberikan berdasarkan Konvensi untuk Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Fundamental.
Pada tanggal 2 Januari 1991, di sebuah bandara internasional di tanah airnya di Guam, Ras Iyah Makahna Ben (Benny Guerrero) ditangkap karena memiliki dan impor ganja dan biji. Dia didakwa dengan impor dari bahan yang dikendalikan. Kasus ini didengar oleh AS 9 Circuit Court November 2001, dan di

Mei 2002 pengadilan telah memutuskan bahwa praktek sanksi Rastafari merokok ganja, tapi tak apakah sanksi agama impor ganja. pengacara Guerrero’s Graham Boyd menunjukkan putusan pengadilan adalah “setara dengan anggur katakan adalah suatu sakramen diperlukan untuk beberapa orang Kristen tetapi Anda harus menanam anggur Anda sendiri.”

Pada bulan Juli 2008, namun Mahkamah Agung Italia memutuskan bahwa Rastafari mungkin diizinkan untuk memiliki jumlah yang lebih besar dari ganja secara legal, karena digunakan oleh mereka sebagai sakramen.
Read »

HAK ASASI MANUSIA (HAM)

Wawasan Kebangsaan: Hak Asasi Manusia (HAM)

Sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan Hak Asasi Manusia (HAM) seiring dengan pendiriannya pada tahun 1945, maka HAM muncul sebagai issue internasional yang selalu menjadi perhatian masyarakat dunia. Namun sayangnya, HAM yang semula lahir dimaksudkan untuk membebaskan umat manusia dari penjajahan dan perbudakan, belakangan justru menjadi senjata ampuh untuk menghidupkan kembali Imperialisme Modern.

Dengan dalih HAM, para Kapitalis mengeruk keuntungan sebesar-besarnya di berbagai sektor ekonomi, tanpa peduli kerugian pihak lain. Dengan dalih HAM pula, negara-negara Kapitalis bersekutu memporak-porandakan berbagai negara yang tidak mereka sukai, secara politik mau pun ekonomi. Bahkan kini, dengan dalih HAM juga, berbagai perilaku anti agama ditumbuh-suburkan  tanpa peduli batasan ajaran agama.

Di Indonesia, HAM menjadi senjata penting bagi kaum Liberal dalam mengusung seluruh programnya. Dengan dalih HAM, kaum Liberal selalu memperjuangankan "penghalalan yang haram" dan "pembelaan yang bathil", seperti legalisasi miras dan ganja, bahkan narkoba, begitu juga positivisasi perjudian dan pelacuran, bahkan formalisasi perkawinan sejenis. Dengan dalih HAM pula, kaum Liberal selalu memperjuangankan "pengharaman yang halal" dan "penolakan yang haq", seperti penolakan terhadap Undang-Undang Penodaan Agama dan Undang-Undang Pornografi, bahkan penolakan terhadap semua Undang-Undang dan Perda-Perda yang bernuansakan Syariat Islam.

Karena itulah, pembahasan tentang HAM dalam Wawasan Kebangsaan menjadi sangat penting, agar HAM tidak dijadikan senjata untuk merontokkan pilar-pilar bangsa dan negara Indonesia.

HAM Menurut Barat

Barat mendefinisikan HAM sebagai hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak lahir secara alami tanpa ada kaitan sama sekali dengan ajaran agama apa pun. HAM dalam pandangan Barat murni merupakan hasil pemikiran dan penetapan akal semata, terlepas sama sekali dari dogma agama.

Definisi tersebut melepaskan ikatan HAM dari doktrin ajaran agama, sehingga norma-norma agama sama sekali tidak menjadi ukuran penting dalam terminologi HAM. Dengan makna HAM seperti ini, maka HAM sering dihadap-hadapkan dengan agama, sehingga HAM sering dipahami sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan karena HAM sering digunakan untuk mengkerdilkan agama, akhirnya HAM dianggap sebagai musuh agama.

Berdasarkan definisi tersebut pula, maka setiap manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dengan melakukan aneka hubungan sex yang diinginkannya, sebagaimana setiap manusia berhak untuk makan dan minum apa saja yang disukainya. Karenanya, menurut Barat bahwa perzinahan dan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) serta aneka penyimpangan sex lainnya, adalah merupakan HAM. Begitu pula mengkonsumsi makanan dan minuman haram, semuanya adalah HAM.

Selain itu, HAM dalam pandangan Barat tidak statis, tapi berubah-ubah tergantung penilaian akal yang dikuasai hawa nafsu terhadap situasi dan kondisi serta kepentingan, karena lepas dari doktrin agama sama sekali. Bisa jadi, sesuatu yang dianggap HAM pada saat ini, namun di kemudian hari tidak lagi dianggap sebagai HAM. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak dianggap HAM pada saat ini, namun di kemudian hari bisa dianggap sebagai HAM.

Misalnya, saat ini mengkonsumsi khamar (miras) di Amerika Serikat dianggap sebagai HAM, bahkan menjadi gaya hidup modern. Padahal pada tahun 1919, pemerintah AS menganggap Miras bukan bagian HAM, bahkan AS menyatakan perang terhadap Miras dan melarangnya sama sekali. Saat itu pemerintah AS mengeluarkan Undang-Undang Anti Miras yang sosialisasinya menelan biaya US $ 60 ribu dan dana pelaksanaannya mencapai Rp.75 Milyar, sesuai dengan nilai mata uang di zaman itu. Dan menghabiskan 250 juta lembar kertas berbentuk selebaran.

Selama 14 tahun pemberlakuan UU Anti Miras di AS, telah dihukum mati sebanyak  300 orang peminum miras dan dihukum penjara sebanyak 532.335 orang. Tapi ternyata, masyarakat AS justru makin hobby meminum miras, yang pada akhirnya memaksa pemerintah mencabut UU Anti Miras pada tahun 1933 M, dan membebaskan miras sama sekali.

Nah, bisa jadi saat ini mengkonsumsi Narkoba dianggap musuh besar HAM di berbagai belahan dunia, namun di kemudian hari justru Narkoba dianggap sebagai HAM, bahkan gaya hidup masa depan, sebagaimana Kasus Miras. Gejala itu sudah mulai ada, misalnya sejak beberapa tahun lalu di Indonesia ada usulan dari Lingkar Ganja Nusantara kepada Badan Narkotik Nasional dan pemerintah serta DPR RI agar melegalisasi ganja.

Itulah sebabnya, HAM dalam pandangan Barat tidak memiliki kaidah dan batasan yang jelas, sehingga manakala definisi HAM mereka berbenturan dengan kepentingan mereka sendiri atau kemauan hawa nafsu mereka, maka mereka berlindung dibalik pengecualian-pengecualian atau ketentuan-ketentuan hukum khusus atau perubahan ketetapan Konvensi HAM.

HAM Menurut Islam


Dalam Islam definisi HAM adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak lahir sebagai karunia Allah SWT, sehingga hak tersebut tidak akan pernah bertentangan dengan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Inti dari KAM adalah kewajiban manusia beribadah kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam QS.51.Adz-Dzaariyaat : 56 yang terjemahnya : "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." Dengan KAM segenap umat Islam wajib tunduk, patuh dan taat menjalankan semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, serta wajib pula meninggalkan segala larangan Allah SWT dan Rasul-Nya, semata-mata hanya untuk mencari ridho-Nya.

Dengan demikian, HAM tidak berdiri sendiri, tapi selalu diikat dengan KAM. Jadi, definisi HAM terikat erat dengan doktrin ajaran agama Islam, sehingga norma-norma agama Islam menjadi tolok ukur paling utama dalam terminologi HAM.
Berdasarkan definisi ini, maka setiap manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, namun harus dengan cara yang dibenarkan Syariat Islam, sebagaimana setiap manusia berhak untuk makan dan minum apa saja yang disukainya, namun tetap dalam batasan makanan dan minuman yang dihalalkan Syariat Islam.

Karenanya, dalam Islam ditegaskan bahwa perzinahan dan LGBT serta aneka penyimpangan sex lainnya, merupakan pelanggaran KAM, sehingga bukan merupakan HAM. Begitu pula mengkonsumsi makanan dan minuman haram, semuanya pelanggaran KAM, dan bukan merupakan HAM.

Selain itu, HAM dalam pandangan Islam statis, tidak berubah-ubah. Artinya, apa-apa yang diharamkan atau dihalalkan Syariat Islam akan tetap berlaku hingga Hari Akhir. Sesuatu yang telah ditetapkan sebagai HAM mau pun KAM oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka dari dulu hingga kini, bahkan sampai masa yang akan datang, akan tetap menjadi HAM dan KAM.

Dengan demikian, keharaman khamar (miras) yang mencakup segala jenis minuman atau makanan yang memabukkan. Dari bahan apa pun dibuatnya, apakah dari kurma, anggur atau buah lainnya, termasuk dari bahan kimia sekali pun. Dan apa pun bentuknya, apakah cair, gas, asap, jeli, bubuk, pil, serta bentuk lainnya. Dan bagaimana pun cara mengkonsumsinya, apakah diminum, dimakan, dikunyah, dioleskan, disedot, atau pun disuntikkan. Dan apa pun namanya, apakah Alkohol, Arak, Bir, Rum, Vodka, Cognac, dan sebagainya. Dan berapa pun kadar penggunaannya, banyak atau pun sedikit. Serta kapan dan dimana pun minumnya, apakah di musim panas mau pun dingin, atau apakah di negeri Arab mau pun di negeri China atau di negeri lainnya. Maka sejak dulu hingga sekarang, bahkan sampai yang akan datang, khamar adalah haram, dan bukan merupakan HAM, serta sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi HAM.
Jadi jelas, bahwa HAM dalam pandangan Islam memiliki kaidah dan batasan yang jelas, sehingga tidak akan pernah berbenturan dengan KAM.

Islam Vs Deklarasi HAM PBB

Pada tanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 217 A (III) tentang Deklarasi Universal HAM. Secara umum resolusi tersebut cukup baik, karena didorong oleh semangat penegakan keadilan bagi seluruh umat manusia. Namun karena dasar pemikiran resolusinya bersumber dari HAM Barat, maka sejumlah item yang diatur di dalamnya bertentangan dengan ajaran agama, khususnya agama Islam.

Pasal 16 resolusi tersebut adalah "Pasal Kawin Bebas", karena menjamin kebebasan bagi pria mau pun wanita yang sudah dewasa dengan hak yang sama untuk menikah tanpa batasan agama dan tanpa peran Wali Nikah. Padahal dalam pandangan umum Islam diharamkan "Kawin Beda Agama" dan "Kawin Tanpa Wali".

Dan Pasal 18 resolusi tersebut adalah "Pasal Murtad", karena menjamin kebebasan bagi setiap orang untuk berganti agama apa pun, termasuk yang murtad dari Islam. Padahal dalam Islam setiap muslim diharamkan untuk keluar dari Islam, bahkan diancam Hukuman Mati.

Pasal 21 resolusi tersebut adalah "Pasal Demokrasi" karena mewajibkan setiap negara untuk menerapkan "Demokrasi" dengan memberikan kedaulatan sepenuhnya kepada keinginan rakyat dan mewajibkan Pemilu di setiap negara. Padahal Islam bukan Demokrasi, dan Demokrasi bukan Islam.

Pada tanggal 16 Desember 1966, Majelis Umum PBB menetapkan Resolusi 2200 A (XXI). Dalam Resolusi ini ada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang menekankan kembali tentang "Pasal Kawin Bebas" dan "Pasal Murtad" serta "Pasal Demokrasi", yaitu pada Pasal 1, 2, 23 dan 25. Sedang Pasal 6 kovenan ini masih mengakui dan membolehkan pemberlakuan Hukuman Mati, namun kemudian dibatalkan melalui Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik untuk penghapusan Hukuman Mati yang ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum PBB No. 44 / 128 tertanggal 15 Desember 1989. Padahal dalam Islam ada pemberlakuan Hukuman Mati dalam masalah Qishash mau pun Hudud, seperti hukuman mati bagi pembunuh dan zani muhson serta murtad.

Hak Anak Dan Wanita

Majelis Umum PBB mengeluarkan sejumlah resolusi tentang Anak dan Wanita atas dasar semangat untuk memberi perlindungan terhadap anak dan wanita. Tentu ini merupakan suatu upaya terpuji yang harus didukung semua pihak. Namun sayang, lagi-lagi dasar pemikiran resolusinya bersumber dari HAM Barat, sehingga sering bertentangan dengan ajaran agama, khususnya agama Islam.

Salah satu resolusi PBB terkait Anak adalah Konvensi Hak Anak yang ditetapkan Majelis Umum PBB melalui Resolusi No. 44 / 25 tertanggal 20 November 1989. Pasal 20 resolusi ini secara eksplisit mengakui eksitensi Kafalah dalam Hukum Islam. Dan Pasal 24 resolusi ini secara rinci menjamin perlindungan terhadap anak dari segala bentuk eksploitasi sex dan pornografi. Ini merupakan hal yang sangat bagus dari resolusi ini. Hanya saja, resolusi ini tidak memberi batasan jelas tentang definisi anak.

Pasal 1 resolusi ini menetapkan bahwa permulaan usia dewasa seseorang, baik pria mau pun wanita, adalah 18 tahun, kecuali apabila menurut hukum yang berlaku bagi anak tersebut ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Dasar penetapan usia dewasa dalam pasal ini  tidak jelas, dan semakin bias dengan pengecualian yang juga tidak memiliki indikator kedewasaan yang pasti.

Dalam Islam dasar dan indikator kedewasaan sesorang sangat jelas dan pasti. Islam menetapkan bahwa kedewasaan bagi pria ditandai dengan salah satu dari dua perkara, yaitu "mimpi" yang menyebabkan junub pertama atau usia yang sudah genap 15 tahun qomariyyah. Sedang kedewasaan bagi wanita ditandai juga dengan salah satu dari dua perkara, yaitu "Haidh" yang pertama atau juga usia yang sudah genap 15 tahun qomariyyah. Penetapan ini sangat sederhana tapi jelas dan terang, sehingga mudah diidentifikasi oleh siapa pun.

Dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 34 / 180 tanggal 18 Desember 1979 tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan disebutkan antara lain : Pelarangan kawin dan hamil di bawah usia 18 tahun dan Pelarangan Khitan bagi anak perempuan. Padahal dalam Islam, soal usia perkawinan kembali kepada ketetapan Islam tentang usia dewasa sebagaimana tersebut di atas, sehingga siapa telah dewasa maka ia berhak untuk kawin dan hamil sesuai aturan Syariat Islam.

Ada pun soal Pelarangan Khitan Perempuan, PBB mengambil sampel "Khitan Fir'aun" yang marak di Benua Afrika, yaitu "Pemotongan Alat Kelamin Wanita", lalu menggeneralisir bahwa semua bentuk khitan dilarang. Padahal "Khitan Islam" berbeda dengan "Khitan Fir'aun". Dalam Khitan Islam cukup hanya menghilangkan selaput (jaldah / colum / praeputium) yang menutupi klitoris, bukan melukai atau memotong klitorisnya, apalagi memotong alat kelaminnya. Bahkan dalam Islam sudah dianggap cukup hanya dengan melakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris).

Selain itu, dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ternyata juga ada soal perempuan dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Pasal 3 kovenan tersebut adalah "Pasal Kesetaraan Gender", karena menjamin persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita dalam semua aspek kehidupan, termasuk waris. Selain itu, masih ada Deklarasi dan Program Aksi di Wina pada tanggal 25 Juni 1993 tentang Hak Anak dan Wanita yang secara rinci menetapkan soal "Kesetaraan Gender". Padahal Islam tidak mengenal "Kesetaraan Gender", tapi Islam memperkenalkan "Keserasian Gender". Ada pun Hukum Waris dalam Islam sudah final.

Awasi Dan KoreksiAM PBB

Dengan fakta dan data tersebut di atas tentang kontroversialnya berbagai Resolusi HAM PBB, maka umat Islam di seluruh dunia berkewajiban untuk selalu melakukan pengawasan dan pengkajian terhadap setiap Resolusi HAM PBB. Apalagi disana masih banyak sekali pasal-pasal dalam berbagai Resolusi HAM PBB yang mesti disorot, dikaji dan dikoreksi agar tidak dijadikan senjata untuk membombardir Syariat Islam.

Tanggung jawab negara-negara Islam, khususnya yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan menjadi anggota PBB, tentu lebih besar lagi. Mereka mesti secara pro aktif mengikuti semua agenda sidang PBB, dan harus menyoroti secara cermat semua draf rencana keputusan PBB yang berpotensi menabrak ajaran agama Islam, serta wajib menolak segala keputusan PBB yang dipaksakan dan bertentangan dengan Syariat Islam. Jangan sebaliknya, negara-negara Islam di PBB hanya menjadi "skrup" untuk menguatkan visi misi PBB yang "sangat Barat". Apalagi sampai ikut mengkampanyekan resolusi PBB yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Misalnya, pada tahun 2006 di Indonesia terbit Surat Edaran (SE) Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI No : HK. 00.07.1.31047 a tertanggal 20 April 2006 tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan, dengan alasan menyakitkan dan membahayakan serta merusak organ reproduksi perempuan, sekaligus memenuhi tuntutan WHO sebagai Badan Kesehatan Dunia di PBB. SE tersebut disebar-luaskan ke semua RS dan Puskesmas, sehingga hampir semua RS menolak permintaan Khitan Anak Perempuan. Akibatnya, selama SE tersebut berlaku banyak anak perempuan umat Islam di Indonesia yang tidak dikhitan.

Lalu umat Islam Indonesia protes keras, karena Khitan dalam Islam bagi pria mau pun wanita adalah bagian dari Fithrah, sehingga merupakan Syiar Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pun pada tahun 2008 mengeluarkan Fatwa No. 9A tentang Khitan tertanggal 7 Mei 2008, sekaligus merekomendasikan kepada pemerintah agar menjadikan Fatwa tersebut sebagai acuan dalam masalah Khitan Perempuan.

Akhirnya, pada tahun 2010 terbit Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1636 / MENKES / PER / XI / 2010 tentang Sunat Perempuan yang mencabut SE Larangan Sunat Perempuan, sekaligus menerima rekomendasi MUI dengan menyetujui pelaksanaan Sunat Perempuan. Namun sayangnya Peraturan Menkes RI tersebut tidak tersosialisasikan dengan baik secara meluas, sehingga sampai saat ini masih ada sejumlah RS yang menolak Khitan Anak Perempuan.

Selain negara-negara Islam yang harus pro aktif mengawasi berbagai resolusi PBB, maka umat Islam pun harus pro aktif juga mengawasinya. Apalagi secara perorangan atau organisasi pun diperkenankan untuk menyampaikan laporan ke PBB, baik usul dan saran mau pun kritik dan protes. Untuk itu ada sejumlah alamat yang bisa digunakan sesuai dengan bidang laporannya. Khusus masalah HAM bisa dialamatkan ke : Centre for Human Rights - United Nations Office of Geneva, 1211 Geneva 10, Switzerland.

HAM Iindonasia


Fakta sejarah membuktikan bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan di atas muka Bumi, lebih dulu ada dari pada Piagam PBB yang lahir tanggal 24 Oktober 1945. Artinya, Indonesia lebih dulu memiliki Deklarasi Universal HAM ketimbang PBB.

Namun demikian, aturan HAM secara rinci di Indonesia baru lahir pasca Reformasi 1998 melalui Amandemen UUD 1945 yang melahirkan Pasal 28 dan Pasal 28 huruf a s/d j tentang HAM. Lalu dilanjutkan dengan lahirnya UU No. 33 Th. 1999 tentang HAM yang sekaligus menjadi dasar pendirian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang disingkat Komnas HAM.

Penegakan HAM di Indonesia patut diapresiasi dan wajib kita dukung. Namun sayang sejuta sayang, pendefinisian HAM dalam UUD dan UU HAM yang ada masih merujuk kepada definisi HAM Barat, sehingga pada prakteknya menjadi bertolak belakang dengan pilar-pilar bangsa dan negara Indonesia. Buktinya, Komnas HAM di Indonesia banyak melakukan tindakan yang bertentangan dengan Asas Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjadi inti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dua pilar utama negara.

Pertama, Pembelaan Komnas HAM terhadap aliran sesat Ahmadiyah dan aliran-aliran sesat lainnya, yang secara terang-terangan telah menodai ajaran Islam. Padahal sesuai dengan UU Penodaan Agama yang tertuang dalam Penpres No.1 / 1965, UU No.5 Th.1969 dan KUHP Pasal 156a tentang larangan Penodaan Agama, mestinya semua aliran sesat yang telah menodai dan menistakan agama ditolak keras oleh Komnas HAM, bukan dijustifikasi dan dilegitimasi dengan pembelaan hingga tingkat internasional. Apalagi sesuai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 2200 A (XXI) Pasal 18 ayat 3 yang memberikan hak kepada negara untuk melakukan pembatasan hukum yang diperlukan untuk melindungi keselamatan, ketertiban, kesehatan atau moral umum, atau hak asasi dan kebebasan orang lain. Ditambah lagi dengan putusan Sidang PBB di Jenewa - Swiss  pada tanggal 26 Maret 2009 bahwa penodaan agama adalah pelanggaran HAM.

Kedua, Pembelaan Komnas HAM secara terang-terangan terhadap LGBT. Itu terlihat dalam pembelaan Komnas HAM terhadap Irsyad Manji dan Lady Gaga yang merupakan icon LGBT Internasional. Bahkan Komnas HAM pernah terlibat langsung dalam rangkaian acara "Kontes Waria" di Hotel Bumi Wiyata Jl. Margonda Raya, Depok - Jawa Barat, pada tanggal 30 April 2010. Dan kini sudah kesekian kali Komnas HAM mengajukan atau merestui para Aktivis LGBT ikut Fit and Proper Tes di DPR RI untuk jadi anggota Komnas HAM. Padahal, LGBT itu bertentangan dengan ajaran agama Islam dan bertentangan juga dengan empat pilar utama negara dan bangsa Indonesia, yaitu : Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Ketiga, Pembelaan Komnas HAM secara terang-terangan terhadap gerakan Anti Perda Syariah dan aksi penolakan UU Pornografi, dengan dalih menolak diskriminasi dan perlindungan terhadap minoritas serta pelestarian budaya dan adat istiadat. Padahal, pemberlakuan Syariat Islam hanya kepada mayoritas muslim dan tidak dipaksakan kepada minoritas non muslim, sehingga tidak ada itu tindak diskriminatif yang merugikan kalangan non muslim. Bahkan manakala mayoritas diwajibkan tunduk dan patuh kepada Syariat Islam, justru minoritas akan terlindungi, karena Syariat Islam adalah Syariat Rahmat untuk semesta alam. Soal adat dan budaya, Islam selalu memberi ruang pelestarian dan pengembangannya selama tidak melanggar norma agama. Ada pun yang melanggar mesti diluruskan, seperti adat telanjang tanpa pakaian di depan umum, itu bukan budaya terpuji, tapi keterbelakangan. Nah, keterbelakangan itu harus dibina agar berperadaban, bukan dilestarikan agar tetap primitif.

Fakta dan Data di atas sudah cukup membuktikan bahwa paradigma Komnas HAM murni merupakan paradigma HAM Barat. Bahkan ada indikasi lain yang menunjukkan bahwa Komnas HAM memang sudah jadi Antek Barat, antara lain adalah tingginya tingkat pembelaan Komnas HAM terhadap "kasus-kasus kecil" yang dialami minoritas seperti kasus HKBP di Ciketing Bekasi dan Gereja Yasmin di Bogor, namun terhadap "kasus-kasus besar" seperti pembantaian ribuan umat Islam dan pembakaran ratusan Masjid di Ambon, Poso, Sambas dan Sampit, ternyata Komnas HAM tuli, bisu dan buta : "Shummun Bukmun 'Umyun".

Kesimpulan

Definisi HAM yang benar adalah definisi yang diberikan Islam, yaitu bahwa HAM adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak lahir sebagai karunia Allah SWT, sehingga hak tersebut tidak akan pernah bertentangan dengan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Indonesia sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim terbanyak dan terbesar di dunia yang memiliki empat pilar negara yang berjiwakan Piagam Jakarta dengan inti Ketuhanan Yang Maha Esa dan Syariat Islam, maka tidak ada pilihan lain dalam soal HAM, kecuali hanya boleh mendefinisikan HAM sesuai dengan definisi Islam.
Read »

Mengukir Kembali Sejarah Bima Masa Lampau

Sejarah Bima
SEJARAH BIMA DANA MBOJO 

         Bima termasuk Daerah Tingkat II Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelum bergabung dengan NKRI, Bima telah melewati perjalanan sejarah panjang yang bermula dari masa sebelum Islam. Sayangnya, karena keterbatasan sumber, hingga kini masih sulit untuk mengungkapkan serta memaparkan sejarahnya. Dalam konteks sejarah nasional, peran dinamika politik Bima jarang diungkap. Hal ini mungkin disebabkan oleh porsi partisipasi pergolakan kekuasaan di sana yang lebih bersifat lokal dan hanya meliputi wilayah regional. Selain itu, penulisan sejarah tentang Bima lebih banyak dilatarbelakangi oleh nasionalisme berlebihan sehingga tulisan-tulisan sejarah lokal tentang peran Bima dalam dinamika politik nasional terkesan dipaksakan. Dari sini, penulis berusaha membuat tulisan dengan landasan historis lokal sekaligus memaparkan karakteristik masyarakat Bima. Dengan ini, selain bisa mengetahui dinamika kekuasaan di Bima, pembaca juga bisa menilai bagaimana kondisi masyarakat Bima abad ke-17-18 M.
     Masyarakat Bima adalah masyarakat dengan kontruksi yang heterogen. Masyarakat Bima terdiri atas komposisi ras yang cukup beragam. Kapan dan bagaimana Bima bisa memiliki komposisi masyarakat yang demikian akan penulis paparkan secara historis dalam tulisan yang mengangkat judul ”Dinamika Sosial dan Politik Kesultanan Bima Abad ke-17 – 18 M” ini. Dalam tulisan ini juga akan diterangkan mengenai Bima pada masa kesultanan, atau menurut Bpk. Ari Sapto, M.Hum (Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang) lebih tepat disebut Kerajaan Islam Bima, yang dalam sejarahnya banyak berperan dalam berbagai pergolakan di Nusantara bagian timur terutama pada masa awal pemerintahan Kerajaan Islam Bima sekitar abad ke-17 M. 

       Ramainya jalur perdagangan dan pelayaran Nusantara pada masa awal kerajaan Islam tidak hanya diikuti oleh inkulturasi dan transfer budaya, tetapi juga memancing kepentingan politis VOC dalam hegemoni kekuasaan serta monopoli perdagangan di wilayah Bima. Dalam perkembangannya, ketika pemerintah Hindia Belanda mengambil alih wilayah kekuasaan VOC, Bima sebagai salah satu kerajaan di Pulau Sumbawa tidak luput dari penetrasi kekuasaan Belanda. Dari awal abad ke-17 sampai awal abad ke-19, Belanda sebagai kongsi dagang (VOC) maupun sebagai pemerintahan kerajaan terus melakukan usaha hegemoni kekuasaan di wilayah ini. Contoh usaha yang dilakukan, di antaranya politik adu domba serta membuat berbagai perjanjian yang pada akhirnya berhasil menguasai lingkungan istana secara utuh. Perjanjian-perjanjian tersebut berujung pada perjanjian yang dikenal dengan ”Conract Met Bima”. Perjanjian ini menunjukkan bahwa Kerajaan Bima benar-benar berada dalam wilayah hegemoni Hindia Belanda.

A. Bima pada Masa Awal Kesultanan

Sebelum memaparkan tentang masuk dan berkembangnya Islam di Bima, penulis akan membahas secara umum kondisi Bima sebelum era kesultanan. Tidak banyak sumber yang menggambarkan kondisi masyarakat Bima pada masa itu, akan tetapi beberapa tulisan lama tentang Kerajaan Bima menggambarkan masyarakat Bima sudah banyak yang menganut Islam bahkan sebelum Islam memasuki kancah politik dan pemerintahan. Bima sebelum masa kesultanan digambarkan sebagai daerah yang penduduknya beragama Hindu. Hal ini bisa dilihat dari temuan situs Wadu Pa’ayang terletak di Desa Sowa, Kecamatan Donggo, pesisir barat ujung utara Teluk Bima.

      Ada beberapa pendapat mengenai proses masuknya Islam di Bima. Dalam buku Peranan Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara karangan M. Hilir Ismail , Islam tersebar di wilayah Lombok dan Sumbawa salah satunya dibawa oleh Sunan Prapen yang merupakan putra Sunan Giri pada 1540 – 1550 M. Arus islamisasi yang besar juga berasal dari para pedagang Sulawesi sekitar 1617 M, seperti yang disebutkan dalam BO (catatan lama Istana Bima). Kesultanan Bima dalam kancah politik Nusantara, pada abad ke-17, banyak mengalami berbagai pergolakan, baik di dalam tubuh Bima sendiri maupun di wilayah timur Nusantara. Hubungan bilateral Kesultanan Bima dengan Kerajaan Gowa terjalin dengan baik, selain karena persamaan ideologi kerajaan (Islam), juga karena adanya hubungan darah di antara pemegang kekuasaan kedua kerajaan.

    Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Islam masuk ke wilayah pemerintahan Kesultanan Bima tidak terlepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Makassar, khususnya Kerajaan Gowa. Di samping itu, perkawinan sultan pertama Bima, Sultan Abdul Kahir, yang disebut-sebut sebagai bentuk perkawinan politik yang merupakan intrik politik yang cukup populer pada abad itu, ikut memperkuat hubungan bilateral kedua kerajaan.

B. VOC dan Pemerintah Hindia Belanda dalam Dinamika Politik Kerajaan Islam Bima

Kontak pertama antara Bima dan orang-orang Belanda telah dimulai pada awal abad 17, ketika terjadi perjanjian lisan antara Raja Bima, Salasi, dan orang Belanda bernama Steven van Hegen pada 1605. Dalam sumber lokal, perjanjian ini disebut Sumpa Ncake. Isi perjanjian tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, pada masa-masa berikutnya, hubungan dagang antara Bima dan VOC tampak terjalin dan berpusat di Batavia. Dalam catatan harian VOC atau Dah-register disebutkan bahwa VOC mengirim kapal-kapalnya ke Bima untuk membeli beras dan komoditas lainnya. Secara politis, hubungan Bima dan VOC mulai berlangsung dengan ditandatanganinya perjanjian pada 8 Desember 1669 dengan Admiral Speelman. 

      Perjanjian itu merupakan kontrak pertama dengan VOC sebagai akibat keikutsertaan Sultan Bima, Abdul Khair Sirajudin, membantu Kerajaan Gowa memerangi Belanda. Karena kalah perang, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian dengan Belanda pada 1667, yang dikenal sebagai ”Perjanjian Bongaya”. Isi perjanjian itu antara lain memisahkan Kerajaan Bima dengan Kerajaan Gowa agar tidak saling berhubungan dan saling membantu. Pada perjanjian tahun 1669, Bima memberikan terobosan pada Kompeni untuk berdagang di Bima dan raja atau sultan tidak boleh meminta atau menarik cukai pelabuhan terhadap kapal dan barang-barang Kompeni yang keluar masuk pelabuhan.
Setiap terjadinya pergantian raja atau sultan, Kompeni akan membuat kontrak baru. Alasannya, selain untuk memperkuat kontrak-kontrak sebelumnya, juga untuk menjadikan Bima dan kerajaan-kerajaan lain di Pulau Sumbawa di bawah kekuasaan Kompeni secara perlahan-lahan. Selain itu, pertikaian di antara elit penguasa di Pulau Sumbawa, baik yang sengaja direkayasa oleh Kompeni atau bukan, pada dasarnya memberikan kesempatan bagi VOC untuk memperluas pengaruh serta kekuasaannya di wilayah itu. 

   Untuk mewujudkan keinginannya, VOC mengadakan pendekatan melalui pembuatan kontrak atau perjanjian secara paksa. Sebagai contoh, pada 9 Februari 1765, VOC mengadakan perjanjian secara kolektif dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa, yaitu Bima, Dompu, Tambora, Sanggar, Pekat, dan Sumbawa. Cornelis Sinkelaar (Gubernur VOC) sepakat dengan Abdul Kadim (Raja Bima), Datu Jerewe (Raja Sumbawa), Ahmad Alaudin Juhain (Raja Dompu), Abdul Said (Raja Tambora), Muhamad Ja Hoatang (Raja Sanggar), dan Abdul Rachman (Raja Pekat) untuk bersama-sama dengan VOC memelihara ketenteraman, bersahabat baik, dan mengadakan persekutuan dengan VOC. Dalam pasal 1 kontrak tersebut dinyatakan bahwa raja-raja di Pulau Sumbawa, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, berjanji akan terus mematuhi kontrak yang pernah dibuat sebelumnya. Demikian pula prosedur-prosedur dalam perjanjian yang telah dibuat sebelumnya dengan VOC, masih berlaku dan akan terus dipatuhi. Pada 1675, VOC diizinkan untuk mendirikan posnya di Bima. Perjanjian itu diperbarui lagi pada 1701 dan sejak itu secara resmi VOC hadir di Bima.

Pada awalnya, ditempatkan seseorang dengan jabatan koopman atau onderkopman, kemudian seorang residen, dan akhirnya seorang komandan. Pada 1708, J. Happon ditunjuk sebagai residen yang pertama. Pada 1771, jabatan residen digantikan oleh jabatan komandan sampai 1801. Dalam kontrak disebutkan pula bahwa perjanjian itu dibuat dalam rangka persahabatan dan persekutuan abadi yang didasarkan pada ketulusan, kepercayaan, dan kejujuran. Sebagai konsekuensi dari kontrak-kontrak itu, kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa tidak boleh (dilarang) mengadakan hubungan (politik maupun dagang) dengan daerah-daerah lain, dengan bangsa Eropa lain, atau dengan seseorang kecuali atas persetujuan dan izin VOC. Meski demikian, penempatan residen Belanda di Bima pun harus dengan persetujuan Kerajaan Bima dan sepengetahuan Gubernur dan Dewan Hindia di Makassar. Akibat lain dari perjanjian ini adalah semua hubungan dengan orang-orang Makassar di daerah ini harus diputuskan. Bagi VOC, orang-orang Makassar merupakan para pengacau dan penyulut kekacauan karena hubungan Sumbawa dan Makassar yang telah berjalan lama. Pada 1695, orang-orang Makassar melakukan pelarian dalam jumlah besar ke daerah Manggarai. Bahkan, perpindahan orang-orang Makassar itu telah berlangsung sejak 1669, setelah Kerajaan Gowa ditaklukkan VOC dan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya pada 1667. Pada 1701, orang-orang Makassar berhasil diusir dari Manggarai. 

     Namun, ternyata hubungan antara Bima dengan Makassar tidak dapat diputus dengan cara-cara kekerasan seperti itu karena hubungan Bima-Makassar tidak semata-mata bersifat politik dan ekonomi (dagang), tapi juga hubungan perkawinan antara elit penguasa Bima dan putri bangsawan Gowa.

     Pada 1759, sebagai dampak dari kontrak yang dilakukan raja-raja di Pulau Sumbawa, orang-orang Makassar menyerang Manggarai dan menduduki daerah itu. Namun, mereka tidak dapat bertahan lama karena pada 1762, dengan bantuan VOC, Bima dapat menguasai kembali daerah Manggarai. Usaha yang dilakukan oleh Gowa untuk menguasai Manggarai tetap dilakukan, misalnya pada 1822 dengan jalan menarik pajak, namun belum berhasil. Dengan berbagai perjanjian yang terus diperbarui dari zaman VOC hingga ke Hindia Belanda, perlahan-lahan Kesultanan Bima secara politis kehilangan kekuasaan. Perjanjian yang merupakan titik puncak hegemoni Belanda atas Kesultanan Bima adalah perjanjian yang dilakukan oleh Sultan Ibrahim pada 6 Februari 1908 yang disebut “Contract Met Bima”. Perjanjian tersebut antara lain berisi:
  1. Sultan Bima mengakui Kerajaan Bima merupakan bagian dari Hindia Belanda dan bendera Belanda harus dikibarkan.
  2. Sultan Bima berjanji senantiasa tidak melakukan kerja sama dengan bangsa kulit putih lain.
  3. Apabila Gubernur Jenderal Hindia Belanda menghadapi perang, maka Sultan Bima harus mau mengirim bala bantuan.
  4. Sultan Bima tidak akan menyerahkan wilayah Kesultanan Bima kepada bangsa lain kecuali Belanda.
Walau pada perkembangannya perjanjian ini menyulut perlawanan dari rakyat Bima, tetap saja Kesultanan Bima pada masa itu berada dalam posisi yang lemah. Hal itu bisa dilihat dari perlawanan rakyat yang dapat dipatahkan oleh Belanda secara bertahap dan Sultan Ibrahim tidak punya kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan secara terang-terangan.
note: diketik ulang dari kumpulan artikel yang ada di asrama mahasiswa malang-mbojo dan jika ada diantara pembaca merupakan orang yang telah lama atau pakar sejarah dari bima mbojo kami mohon agar memberikan masukan dan koreksi untuk kami
Read »

Tradisi Ekstrim Adu Kepala (Adat Wawo)

Ntubu, cAdat Bima Wawo
 Ntubu, Tradisi Ekstrim Yang Masih Bertahan

   Salah satu atraksi seni budaya tradisional Bima yang cukup unik adalah Adu Kepala atau dalam Bahasa Bima disebut Ntumbu. Belum ada pihak yang mengetahui secara pasti kapan atraksi kesenian seperti ini mulai ada di Bima. Karena Atraksi Ntumbu ini hanya ditemkukan di desa Ntori dan Desa Maria kecamatan Wawo.

Namun beberapa sejarahwan dan budayawan berpendapat bahwa atraksi ini telah ada pada zaman kesultanan Bima pada abat ke 17. Hampir 90 porsen atraksi kesenian tradisional Bima didominasi oleh atraksi ketangkasan yang menggambarkan semangat patriotisme dan kepahawanan. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan alat-alat ktangkasan dan perlengkapan perang seperti parang, tombak, keris dan lain-lain dalam setiap atraksi.

Di Desa Ntori kecamatan Wawo Bima, Ntumbu diwariskan turun temurun oleh satu keluarga atau keturunan. Dan jarang bisa dimainkan oleh orang lain di luar lingkungan keluarga itu. Sebelum bertanding (Beradu Kepala), salah seorang yang tertua di antara mereka memberikan air doa dan mantera-mantera kepada seluruh anggota pemain. Mantera itu adalah ilmu kebal sehingga ketika mereka melakukan adu kepala tidak merasakan sakit dan tidak benjol atau berdarah akibat benuran kepala itu. Atraksi Adu Kepala diiringi oleh alunan musik tradisonal Bima yaitu Dua Buah Gendang, Satu serunai, Gong, dan Tawa-tawa. Ketika musik dimainkan, beberapa orang berlaga di depan seperti gaya pencak silat lalu saling menyerang dengan kepala.

Sejarahwan M. Hilir Ismail mengemukakan bahwa Atraksi Adu Kepala ini sempat juga dilarang karena ada pandangan bahwa atraksi ini bertentangan dengan ajaran Islam. Kenapa demikian ? karena kepala adalah simbol kehormatan seseorang jadi alangkah hinanya jika diadu. Namun ada juga kalangan yang berpendapat bahwa hal itu adalah bagian dari tradisi untuk menggugah semangat patriotisme membela Kerajaan.
Read »

Oi Kananga, Di Desa Kombo

 Oi Kananga, Di Desa Kombo
 Oi Kananga, Di Desa Kombo

  Oi Kananga ini letaknya disebuah gunung yang berdekatan dengan sebuah sungai kecil yang berhubungan langsung dengan laut Sape, suatu pemandangan indah dimana terhampar rumput yang indah dan beberapa pohon kenanga disekitarnya.

Oi Kananga kalau ditrjemahkan kedalam bahasa indonesia adalah (Oi = Air) sedangkan (Kananga = Pohon kananga). Artinya, mata air itu muncul di sela akar-akar pohon kananga. Kalau kita meminumnya, maka kita akan merasakan tiga rasa yang paling khas, yaitu :
1. Hilang dari dahaga
2. Rasa harum yang menyegarkan
3. Rasa enak mana lagi (mau minum terus) yang oleh masyarakat kombo diistilahkan dengan "oi macaru manta".

Menurut sejarah, Oi kananga ini digali oleh petinggi kerajaan Bima yang sakti mandraguna, namanya Turelinggampo. Petinggi kerajaan ini konon tugasnya untuk melihat tanah-tanah tandus di kabupaten Bima kemudian digalikan sebuah telaga untuk dijadikan sebuah tempat minum bagi para penduduk yang ada di desa itu.

Menurut sejarahwan Bima, bahwa turelinggampo melakukan penggalian telaga tersebut dengan memakai jari telunjuk yang ditancapkan di tanah sambil mengucapkan kalimat لاإله إلاالله maka tanah tandus itu dengan sendirinya berlubang dan lama kelamaan menjadi sebuah telaga yang mengeluarkan mata air yang jernih. Selang beberapa bulan setelah telaga itu digali, turunlah 7 putri langit yang hendak mandi di telaga itu. Yang anehnya, kalau mereka hendak mandi di telaga itu, mereka melakukannya pada waktu 1/3 malam atau sekitar pukul 03.20. Efeknya, air telaga itu semakin besar dan meluap. Dari hari kehari air telaga itu tidak pernah kering walaupun musim kemarau melanda.

Oleh karena para penduduk desa tidak mempunyai tempat MCK (mandi, cuci, kakus) di sekitar rumah mereka. Mereka hanya mengandalkan sungai kecil itu sebagai MCK mereka. Pada suatu hari, ada seorang nenek yang pergi hendak membuang hajat tengah malam, setelah ia sampai ke sungai itu, ia mendengar suara air, seperti suara air mandi orang. Dan ia melihat ada beberapa orang yang mandi tepatnya di telaga Oi Kananga yang dimaksud. Diapun tidak melihatnya secara pasti apakah laki-laki atau perempuan, karena penglihatannya sudah tidak normal lagi. Alhasil nenek itu tidak jadi membuang hajatnya karena ketakutan. Kemudian dicertakanlah oleh nenek itu kepada para penduduk bahwa ada kejadian aneh yang terjadi pada malam itu di telaga Oi Kananga. Para pendudukpun berbondong-bondong turun dari rumahnya ke telaga Oi Kananga untuk melihat kejadian aneh tersebut. Namun apa yang mereka hajatkan tidak didapatkannya.

Akan tetapi ada seorang pemuda yang tidak sengaja pergi ke tempat itu dan mencari barang berharga milik ibunya yang kelupaan pada saat mandi. Persis seperti kejadian yang dialami oleh sang nenek, iapun melihat secara pasti cahaya yang menyinari telaga itu ternyata ada 7 putri langit yang turun hendak mandi di telaga oi kananga. Mereka bersorak sorai dan saling menyemburkan air antara sesamanya. Mata pemuda terbelalak melihat kejadian ini. sekaligus kagum dengan kecantikan, kemolekan dan keanggunan paras tujuh putri langit.
Apabila anda berkunjung ke Kecamatan Wawo,Khususnya di Desa Kombo, salah satu desa yang berada diujung timur kecamatan Wawo ada sebuah daya tarik tersendiri yang pantas direkomendasikan menjadi tempat untuk sejenak melepaskan beban rutinitas, Oi Kananga.
Read »

23 Nomine Peraih FIFA Ballon d'Or 2013:

    Proses pemilihan FIFA Ballon d'Or 2013 akan dilakukan oleh kapten dan pelatih tim nasional anggota FIFA serta media-media yang dipilih France Football. Pengumuman peraih FIFA Ballon d'Or 2013 akan dilakukan di Zurich Kongresshaus, Zurich, Swiss, 13 Januari 2014.

Berikut 23 nomine peraih FIFA Ballon d'Or 2013:

Gareth Bale (Wales), Edinson Cavani (Uruguay), Radamel Falcao (Kolombia), Eden Hazard (Belgia), Zlatan Ibrahimovic (Swedia), Andres Iniesta (Spanyol), Philipp Lahm (Jerman), Robert Lewandowski (Polandia), Lionel Messi (Argentina), Thomas Mueller (Jerman), Manuel Neuer (Jerman), Neymar (Brasil), Mesut Oezil (Jerman), Andrea Pirlo (Italia), Franck Ribery (Perancis), Arjen Robben (Belanda), Cristiano Ronaldo (Portugal), Bastian Schweinsteiger (Jerman), Luis Suarez (Uruguay), Thiago Silva (Brasil), Yaya Toure (Pantai Gading), Robin van Persie (Belanda), dan Xavi Hernandez (Spanyol).
FIFA dan France Football merilis 23 nama nomine peraih FIFA Ballon d'Or 2013. Lionel Messi (Argentina) dan Cristiano Ronaldo (Portugal) kembali masuk nominasi FIFA Ballon d'Or 2013.
Read »

Sihir Ozil Kejutkan Arsenal

Sihir Ozil Kejutkan Arsenal


LONDON – Gelandang Arsenal, Santi Cazorla, mengakui bahwa dirinya dan semua pemain The Gunners sangat terkejut dengan dampak langsung yang dibawa oleh pemain anyar pembelian klubnya musim panas lalu, Mesut Ozil.

Ozil sukses diboyong dari Real Madrid ke Emirates Stadium jelang penutupan bursa transfer dengan banderol 50 juta euro yang memecahkan rekor pembelian termahal sepanjang sejarah klub. Akan tetapi Cazorla menilai, harga yang dibayarkan oleh klubnya itu sangat pantas jika melihat kualitas yang diperlihatkan oleh Ozil sejauh ini.

“Dia (Ozil) memberikan sesuatu yang berbeda bagi tim ini. Dirinya memiliki bakat yang sangat besar, apa yang dilakukannya di lapangan seperti sihir. Dia mampu mengubah jalannya pertandingan, dirinya juga tidak pernah berlama-lama memegang bola dan hanya perlu memberikan sedikit sentuhan untuk bisa mencetak gol,” ujar Cazorla, seperti dilansir Goal, Selasa (19/11/2013).

“Kami sangat kaget ketika mengetahui dirinya memutuskan bergabung bersama kami. Kami tidak menyangka dirinya akan meninggalkan Madrid. Dia seperti hadiah bagi kami,” sambungnya.

Cazorla juga menilai bahwa timnya telah jauh berkembang musim ini. Menurut Cazorla komposisi yang dimiliki oleh timnya sudah sangat berkualitas, jika melihat hasil yang diraih Meriam London saat ini sebagai pimpinan klasemen sementara Premier League.

Meskipun kedatangan Ozil ke tim asuhan Arsene Wenger itu berujung pada perubahan posisi Cazorla, dirinya mengaku tidak kecewa dan tetap yakin dengan peranannya di tim. Pemain internasional Spanyol itu juga merasa tertantang dengan ketatnya persaingan untuk bisa menjadi juara di Premier League dan memuji penampilan gemilang Liverpool sejauh ini sebagai penantang serius timnya untuk meraih trofi juara.

“Saya pikir kami sudah matang musim ini. Bahagia rasanya melihat tim ini berada di puncak klasemen sementara, hasil ini memberikan kami kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa meraih kesuksesan lebih jauh lagi. Tahun lalu kami tampil kurang konsisten dan sering melakukan beberapa kesalahan yang berakibat fatal. Musim ini kami harus tampil lebih baik,” tambah Cazorla.

“Sepakbola di Inggris tidak terlalu taktis, akan tetapi jauh lebih terbuka. Meskipun kedatangan Ozil membuat saya seharusnya menjadi bermain di sisi kiri, akan tetapi pelatih telah memberi saya peran yang lebih bebas untuk bisa bermain lebih ke tengah,” lanjutnya.

“Persaingan di Premier League sangat terbuka, yang mana setiap tim mampu membuat kejutan bagi tim-tim besar lainnya. Saya pikir Liverpool dapat menjadi pesaing serius dalam memperebutkan titel juara di akhir musim, mereka tampil sangat kompak dan memiliki keuntungan hanya bermain di satu kompetisi saja,” tutup Cazorla.
Read »

Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli

Pengertian dan Definisi Pendidikan - Pengertian dan Definisi Pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.

Pengertian dan Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli

Elisa dkk (2001) menyatakan bahwa pendidikan luas dikenal di masyarakat adalah pendidikan dalam arti formal, yaitu pendidikan yang diterima oleh peserta didik melalui pendidik dan biasanya dilakukan pada suatu lembaga atau institusi.

Dengan kata lain, esensi pendidikan (usaha sadar) mengandung makna suatu proses transaksional yang intensional, terjadi dilingkungan (sosial budaya) berstruktur yang disebut sekolah atau sejenisnya.

Pendidikan sebagai salah satu bagian penting dari proses pembangunan nasional merupakan salah satu sumber penentu dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002 : 263)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1)

John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M) menjabarkan bahwa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.

Pendidikan, menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

John Dewey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

Hal senada juga dikemukakan oleh Edgar Dalle bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Thompson mengungkapkan bahwa Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.

Ditegaskan oleh M.J. Longeveled bahwa Pendidikan merupakan usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.

Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah) mengatakan bahwa : “Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”

Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.

Sumber: InfoPendidikan.com
Read »

Ronaldo Lebih Baik dari Messi


    Madrid: Perang opini menjelang pengumuman pemenang penghargaan paling bergengsi bagi pesepakbola profesional, Ballon d'Or 2013, kian hari kian memanas. Sejumlah pihak muncul ke muka publik dengan menjagokan pemain pilihannya.
Berita Terkait

Misalnya, Carlo Ancelotti. Pelatih Real Madrid asal Italia ini tentunya menjagokan pemain didikannya di Bernabeu, Cristiano Ronaldo. Bahkan, mantan arsitek Juventus dan AC Milan tersebut mengancam akan melakukan “demo” jika Ronaldo gagal merebut Ballon d'Or untuk kedua kalinya.

Kini, datang warta dari Italia. Salah satu koran terkemuka di Kota Roma, Il Corriere dello Sport, melansir headline yang isinya dengan gamblang mengunggulkan Ronaldo ketimbang rival bebuyutannya, bintang Barcelona dan Timnas Argentina, Lionel Messi. “Cristiano Lebih Baik dari Messi”, begitu bunyi tajuk utama Il Corriere.

Artikel tersebut merupakan analisis Il Corriere terhadap tiga kandidat utama peraih Ballon d’Or: Ronaldo, Messi, dan Franck Ribery. Alasan Corriere mengunggulkan Ronaldo dilandasi fakta bahwa di musim ini, sampai medio November, mantan bintang Manchester United tersebut telah mencetak 26 gol dari 19 partai, atau unggul 3 gol ketimbang perolehan Messi di tahun lalu.

Karenanya, melihat kondisi Messi yang saat ini sedang absen, Il Corriere menilai persaingan peraih Ballon d’Or tinggal terjadi antara Ronaldo dan Ribery. Gelandang serang Bayern Muenchen ini tampil begitu apik sepanjang 2013. Namun, Il Corriere mewanti-wanti Ribery. Jika Prancis gagal mengalahkan Ukraina alias tersingkir dari Piala Dunia 2014, alamat Ballon d’Or dipastikan menjadi milik Ronaldo
Read »

Terpidana Narkoba Asal Pakistan Dieksekusi Mati

    Kejaksaan Agung mengeksekusi mati seorang terpidana kasus narkotika asal Pakistan, Muhammad Abdul Hafeez (44), Minggu (17/11/2013). Hafeez dieksekusi oleh tim jaksa dari Kejaksaan Tinggi Banten dibantu oleh anggota Satuan Brimob Polda Metro Jaya.

"Dia (Hafeez) dieksekusi oleh tim jaksa eksekutor Kejati Banten dibantu Brimob Polda Metro Jaya serta rohaniawan dan dokter di sekitar Tempat Pemakaman Umum Desa Suradita, Tangerang Selatan," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Setia Untung Arimuladi, melalui pesan singkatnya, Senin (18/11/2013).

Hafeez ditangkap pada 26 Juni 2001 lalu, setelah terbang dari Psawar, Pakistan, menuju Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Ketika ditangkap, Hafeez kedapatan membawa 1.050 gram heroin yang disimpan dalam bungkusan makanan ringan.

Atas perbuatannya, lanjut Untung, Hafeez dianggap telah melanggar Pasal 82 Ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No  22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Kejaksaan telah memberikan kesempatan kepada Hafeez untuk mengajukan upaya hukum mulai dari banding hingga grasi. Namun, permohonan grasi yang dimohonkan Hafeez ditolak berdasarkan surat keputusan Nomor 15/G Tahun 2004 tertanggal 9 Juli 2004.

Begitu pula, sambung Untung, pengajuan Peninjauan Kembali pertama yang diajukan terpidana kepada Mahkamah Agung juga ditolak berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 68.PK/PID/2005 tanggal 28 Juli 2005. Kurang puas, terpidana kemudian mengajukan Peninjauan Kembali kedua ke Mahkamah Agung.

"Mahkamah Agung menolak permohonan PK terpidana berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 96.PK/Pidsus/2008 tertanggal 18 Februari 2009," ucap Untung.

Untung mengatakan, proses eksekusi terhadap Hafeez dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Terpidana telah mendapatkan haknya untuk mengajukan upaya hukum kembali atas kasusnya.

Untung menuturkan, eksekusi mati Hafeez merupakan eksekusi kelima yang dilakukan Kejagung sepanjang 2013. Kendati demikian, masih ada sejumlah terpidana mati yang belum dieksekusi lantaran masih mengajukan upaya hukum kembali.
Read »

Tahanan Narkoba Gantung Diri

 
Tahanan Narkoba Gantung Diri

Diduga stres, Iwan Firmansyah alias Asep bin Dedi Syarifudin (45) tewas gantung diri di kamar mandi sel tahanan Sat Narkoba Polrestabes Bandung, Senin (18/11/2013).

Hal itu dikemukakan oleh Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Sutarno didampingi Kasat Narkoba Polrestabes Bandung, AKBP Agus Dwi Hermawan kepada wartawan disela unjuk rasa buruh di kawasan Balai Kota Bandung. Petugas dan rekan satu sel dari Iwan mengetahui kejadian gantung diri tersebut sekitar pukul 10.20.


"Dugaan sementara stres. Dari laporan yang masuk ke saya sebelum kejadian pelaku sedang diidentifikasi. Dia masuk ke dalam kamar mandi, begitu dicek lagi sudah gantung diri, tapi ini masih kita selidiki," ujar Kapolrestabes.

Pria yang sehari-harinya berprofesi memberikan jasa perbaikan jam ditangkap oleh jajaran Sat Narkoba Polrestabes Bandung di kawasan Jalan Astana Anyar, Bandung, Sabtu (16/11) sekitar pukul 16.00 . Iwan diketahui sebagai warga Kampung Pangauban RT 02/12 Kelurahan Pangauban Kecamatan Ketapang Kabupaten Bandung.

Iwan ditangkap bersama dua orang temannya, Roni Hardiansyah dan Ganjar Nugraha (teman satu ruangan sel). Ketiganya ditangkap karena telah melanggar Pasal 62 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dan mulai ditahan sejak, Minggu (17/11) lalu.

"Almarhum ditangkap karena kepemilikan pil aprazolam. Masuk selnya, Minggu pagi, sekitar jam delapan. Yang bersangkutan bunuh diri dengan cara gantung diri dengan menggunakan sobekan kain yang diikatkan di pintu ruangan sel. Masih kami selidiki," ujar Kasat Narkoba. (*)
Read »

Pengertian Narkoba Dan Jenis-Jenisnya

Narkoba bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Kita telah sering mendengar dan membaca berita tentang narkoba di media elektronik maupun media cetak. Di Indonesia, peredaran obat terlarang ini sudah menjadi alah satu permasalahan utama yang harus segera diatasi.
Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV, VCD, dan film-film.

Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda.

Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Oleh karena itu dituntut adanya peran serta dari berbagai pihak di Indonesia yang dapat memerangi narkoba. Salah satunya konselor sebagai pendidik dilingkungan pendidikan juga dapat ikut berpartisipasi dalam upaya memerangi obat-obatan terlarang tersebut.

Pengertian Narkoba

Pengertian narkoba menurut Kurniawan (2008) adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya.

Sedangkan pengertian narkoba menurut pakar kesehatan adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioparasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalah gunakan akibat pemakaian yang telah diluar batas dosis.

Jenis-jenis Narkoba
Narkoba dibagi dalam 3 jenis yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Penjelasan mengenai jenis-jenis narkoba adalah sebagai berikut:

 1.Narkotika

Menurut Soerdjono Dirjosisworo mengatakan bahwa pengertian narkotika adalah “Zat yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang  menggunakannya dengan memasukkan kedalam tubuh. Pengaruh tersebut  bisa berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan. Sifat-sifat tersebut yang  diketahui dan ditemukan dalam dunia medis bertujuan dimanfaatkan bagi  pengobatan dan kepentingan manusia di bidang pembedahan, menghilangkan rasa sakit dan lain-lain.

Narkotika digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu :

Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya. Daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini digunakan untuk penelitian dan ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, heroin, kokain, morfin, dan opium.

Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : petidin, benzetidin, dan betametadol.Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : kodein dan turunannya.

2.Psikotropika

Psikotopika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika digolongkan lagi menjadi 4 kelompok adalah :

Psikotropika golongan I adalah dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan dan sedang diteliti khasiatnya. Contoh: MDMA, LSD, STP, dan ekstasi.

Psikotropika golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : amfetamin, metamfetamin, dan metakualon.

Psikotropika golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : lumibal, buprenorsina, dan fleenitrazepam.

Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : nitrazepam (BK, mogadon, dumolid ) dan diazepam.

3.Zat adiktif lainnya

Zat adiktif lainnya adalah zat – zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah : Rokok Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan
Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan (Alifia, 2008). Demikianlah jenis-jenis narkoba, untuk selanjutnya faktor-faktor penyebab penyalahgunaan narkotika.
Read »

Sejarah Islam Masuk Di Bima

     Sebagai negara maritim yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir dari berbagai penjuru negeri, seharusnya Bima lebih awal menerima pengaruh islam. Mengingat abad X M, saudagar-saudagar Islam Arab sudah banyak yang berkunjung ke Maluku (Ternate dan Tidore ) untuk membeli rempah-rempah. Tetapi dalam kenyataanya, berdasarkan berbagai sumber tertulis yang untuk sementara dapat dijadikan pegangan, masyarakat pesisir Bima baru mengenal islam sekitar pertengahan abad XVI M, y

 ang dibawa oleh para Mubaliq dan pedagang dari kesultanan Demak, kemudian dilanjutkan oleh mubaliq dan pedagang kesultanan Ternate, pada akhir abad XVI M.

Menurut Sejarahwan M. Hilir Ismail, tahun 1540 M merupakan tonggak awal kedatangan Islam di tanah Bima. Proses islamisasi itu berlangsung dalam tiga tahap yaitu periode kedatangan Islam tahun 1540 – 1621, periode pertumbuhan islam tahun 1621-1640 M, dan periode kejayaan islam pada tahun 1640 – 1950 M. pada tahap awal sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan, ajaran Islam sudah masuk di wilayah-wilayah pesisir Bima.

Berdasarkan kajian dan penelitian itulah, ditetapkanl  dua tahap masuknya islam di tanah Bima. Hal itu didasarkan pada keterangan dari catatan lokal yang dimiliki,  ternyata tahap awal kedatangan Islam di Dana Mbojo, peranan Demak dan Ternate sangat besar. Para mubaliq dan pedagang dari dua negeri tersebut silih berganti menyiarkan Islam di Dana Mbojo. Selain itu para pedagang Bima pun memiliki andil dalam penyiaran Islam tahap awal. Secara kronologis kedatangan Islam di Bima yaitu tahap pertama dari Demak dan kedua dari Ternate.

Pada abad ke-16 M, Bima sudah menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai di wilayah bagian timur Nusantara. Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 M, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi oleh para  pedagang Nusantara dan para pedagang Bima berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda dan Malaka serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara. Pada saat inilah kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam.

Keterangan Tome Pires juga diperkuat Panambo Lombok, DR. E Urtrech, SH mengatakan bahwa “ pengislaman di pulau Lombok terjadi pada masa pemerintahan sunan prapen putera Sunan Giri  yang pernah menundukkan Sumbawa dan Bima. “ Saya sepakat dengan M. Hilir bahwa kata “ Menundukkan “ dalam keterangan Panambo Lombok itu tidaklah tepat, karena proses islamisasi di tanah air secara umum tidak dilakukan dengan jalan kekerasan melainkan dengan misi damai, dakwah dan perdagangan serta perkawinan silang. Kata menundukkan itu sebenanrnya lebih mengarah pada kesadaran masyarakat untuk memeluk Islam.  Disamping itu, jika terjadi penundukkan berarti raja Bima saat itu sudah memeluk Islam dan diikuti oleh rakyatnya. Tapi pada kenyataannya Islam baru secara resmi menjadi agama kerajaan pada tahun  1640 M.

Tahap kedua, Islam masuk di Bima melalui Ternate. Dari catatan Raja-Raja Ternate, dapat diketahui betapa gigihnya sultan Ternate bersama rakyatnya, dalam menegakkan nur islam di wilayah timur nusantara. Pada masa sultan Khairun, sultan Ternate ketiga (1536-1570), telah dibentuk aliansi Aceh-Demak-Ternate. Dan juga telah dibentuk lembaga kerjasama Al Maru Lokatul  Molukiyah yang diperluas istilahnya menjadi Khalifah Imperium Nusantara. Aliansi ini dibentuk untuk meningkatkan kerja sama antara tiga negara islam itu dalam penyebaran pengaruh Islam di wilayah Nusantara.

Pada masa sultan Baabullah(tahun 1570-1583), usaha penyiaran  Islam semakin ditingkatkan dan pada masa inilah, para Mubaliq dan pedagang Ternate meningkatkan kegiatan dakwah di Bima.  Hal itu terus berlanjut sesuai keterangan BO Istana, bahwa para Mubaliq dari Sulawesi Selatan  yang dikirim oleh Sultan Alauddin Gowa tiba di Sape pada tanggal 11 Jumadil Awal 1028 H bertepatan dengan tanggal 16 April 1618, tiga belas tahun setelah Raja Gowa dan Tallo memeluk Agama Islam, bahkan lima belas tahun setelah Raja Luwu memeluk Agama Islam.

Para mubaliq dari Tallo, Luwu, dan Bone tiba di Bima pada saat  situasi politik dan keamanan sangat tidak menguntungkan. Pada saat itu sedang terjadi konflik politik yang berkepanjangan, akibat tindakan dari Salisi salah seorang putera Raja Ma Wa’a Ndapa, yang berambisi untuk menjadi raja. Intrik dan rekayasa politik dijalankan oleh Salisi.  Ia membunuh keponakannya yaitu putera Raja Samara yang telah dilantik menjadi Putera Mahkota. Keponakannya itu dibakar hidup-hidup di padang rumput Wera, yang merupakan areal perburuan bagi raja dan keluarga Istana. Sehingga putera Mahkota itu dikenal dengan nama Ruma Mambora Di Mpori Wera. (Tuanku yang wafat di padang rumput Wera).

Suasana seperti itu tidaklah menyurutkan tekad dan semangat para mubaliq untuk menyiarkan islam di Bima. Mereka terus berupaya untuk menemui Putera Mahkota La Ka’I dalam pelariannya di dusun Kamina. Sebuah dusun di hutan belantara yang berada di puncak gunung La Mbitu di sebelah tenggara Bima.

Pada tanggal 15 Rabiul Awal 1030 H bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1621 M, Putera Mahkota La Ka’I bersama pengikutnya mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan para mubaliq sebagai gurunya di Sape. Sejak itu, putera mahkota La Ka’I berganti nama menjadi Abdul Kahir. Pengikut La Ka’I Bumi Jara Mbojo bernganti nama menjadi Awaluddin, Manuru Bata putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese berganti nama menjadi Sirajuddin.

Pada tanggal 5 Juli 1640 M, Putera Mahkota Abdul Kahir dinobatkan menjadi Sultan Bima pertama setelah melewati perjuangan panjang merebut tahta kerajaan dari pamannya salisi. Hal itu  yang menandai beralihnya sistim pemerintahan dari kerajaan kepada kesultanan. Sejak saat itu, Islam bersinar terang di Bumi Bima dan masa –masa selanjutnya menjadi kesultanan tersohor di Nusantara Timur.
Keadaan alam Bima memang sangat strategis bagi perkembangan politik agama dan perdagangan. Wilayah bagian  utara berbatasan langsung dengan laut flores , sebagai urat nadi perniagaan Nusantara sejak abad 14 M. Terletak di tengah rangkaian kepulauan nusantara dan memiliki pelabuhan alam yang terlindung dari serangan gelombang dan angin musim barat. Hasil alamnya cukup beragam dan menjadi bahan ekspor yang sangat laris pada zamannya. Inilah yang merupakan salah satu sebab bima bisa tampil sebagai negara maritim tersohor sejak abad 15 sampai pertengahan abad 20 M.
Read »

SEJARAH BIMA YANG TERLUPAKAN

Adat Bima
      Sebuah sejarah harus mengungkapkan realitas sebenarnya atas segala sesuatu yang terjadi pada masa kejayaannya. Sejarah yang dikaburkan merupakan kejahatan terhadap generasi. Sebab sejarah bukan sekedar bacaan belaka namun menggambarkan identitas kita dalam fase kehidupan hingga terbentuk karakter diri dan lingkungan sekitar kita. Ketika sejarah dijadikan sebuah alat dalam melanggengkan kekuasaan, maka hal tersebut adalah fatal adanya. Karena suatu saat, gemerasi-generasi kemudian akan membongkarnya. Baru-baru ini, kami (Tambora Study Club-Makassar) mencoba membongkar tabir kejayaan masa lalu dana mbojo yang terjadi pada tahun 1769 – 1792 pada saat kesultanan Mbojo melakukan penaklukan terhadap daerah manggarai. Mengungkap kembali keberadaan ASI Mbojo yang ada di Reo serta hubungan keterkaitan adanya Tapak Kahampa. Sebuah tugas Berat bagi kami (TSC) untuk melakukan penelitian sejarah kemudian dipertanggungjawabkan keabsahan penelitian secara otentik. Tim Peneliti yang di Ketua-I oleh Ketua Umum TSC makassar memulai mengungkap tabir misteri tersebut dengan melakukan study Literatur di Makassar-Gowa, Ende-Manggarai serta Bima. Tak sedikit literature yang didapat untuk mengerucutkan judul tersebut. Dalam study Literatur, Tim dibagi 3 yaitu Tim Makassar, Tim Bima dan Tim Reo-Manggarai. Akhirnya pada tanggal 26 Mei 2008 kemarin seluruh Tim berada di Manggarai-Reo untuk melakukan eksplorasi lapangan atas temuan Literatur tersebut. Pada hari selasa, 10 Juni 2008. seluruh personil Tim Berangkat ke Bima untuk melakukan Sinergisitas atas temuan-temuan lapangan dengan para sejarahwan, Budayawan serta Orang Dalam Kesultanaan. Sebuah hasil yang mencengangkan terkuak. Setelah terjadi penaklukan Reo oleh kesultanan Bima pada tahun 1762 – 1769. kemudian tidak pernah lagi ada catatan atas penaklukan Reo Tersebut hingga tahun 1890. 100 tahun tanpa catatan sejarah. Padahal menjadi sebuah pertanyaan bagi kami ketika menemukan bukti otentik keberadaan ASI di Reo yang dinamakan ASI MBOJO POTA. Terdapat Tapak Tangan Kahampa, beberapa Kuburan Kuno penguasa Bima dan Gowa, semua Dusun/Kampung di Reo menggunakan karakter nama Mbojo. Bahasa keseharian Reo-Manggarai adalah bahasa Mbojo Asli. Kenapa tidak ada yang mengungkap dan kenapa tidak pernah diungkap dalam berbagai catatan sejarah Bima? Berikut Catatan yang kami rangkum : Catatan Sejarah Yang Ada Dalam sejarah kebudayaan Mbojo yang tertulis dalam beberapa Buku seperti : BO' Sangaji Kai, Catatan kerajaan Bima, yang dirangkum oleh Henri Chambert-Loir dan Hj Siti Maryam R. Salahuddin (yayasan Obor Indonesia 1999), Buku BO' Suatu Himpunan Catatan Kuno Daerah Bima (Masir Q Abdullah; 1982), Kerajaan Bima Dana Mbojo (H. Abdul Tajib BA; 1990), Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (Dami L Toda; Ende Nusa Indah 1999). Menceritakan tentang sejarah penaklukan Manggarai oleh kerajaan Bima yang dimulai sejak tahun 1760. Dalam BO' Sangaji Kai mangatakan bahwa ; pada 15/11/1760, Sultan Abdul Kadim menyuruh Tureli Bolo Ismail dan sejumlah pejabat beserta rakyat 1.500 orang untuk menuju gunung Talo di Manggarai sebagai perwakilan kesultanan Bima; mereka disuruh mendirikan Kota dan Benteng … 10 hari kemudian utusan kesultanan Bima sampai di Bandar dalam sungai Gunung Talo Pada Masa tersebut hingga 22/05/1769 dalam catatan BO' Sangaji Kai bahwa "Dalu Todo (Kepala Dusun Todo) dan Dalu Leda (Kepala Dusun Leda) diberikan sebuah surat resmi dari Sultan Bima (Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah atau Ma Wa'a Taho) sebagai tanda kekuasaan Bima atas Pota. Sebelumnya, pada 15/03/1769, Tureli Bolo sebagai Punggawa besar di Pota dan Reo melakukan penyerangan terhadap Benteng Pota dan benteng Pawo hingga akhirnya pada 22/04/1769 Benteng Pota dan Pawo dapat direbut, Daeng Tamimang dan Karaeng Balak menyerahkan diri. Pada saat itu pula Sultan Abdul Kadim mengangkat Daeng Malajang sebagai Papu (Ketua Masyarakat Makassar di Reo) Antara tahun 1760 hingga 1769 menurut catatan D.F. Van Braam Morris (Nota Van Toclichting Behoorende Bij Net Contract Gesloten Met Het Landschap Bima Op Den 20sten October 1886) Kesultanan Bima menguasai Manggarai atas dua wilayah yaitu Reo ndan Pota. Reo memiliki tujuh wilayah distrik/dusun (Reo, Toda, Renda, Kole, Koela, Barie, dan Weas) sedangkan Pota terbagi atas enam distrik/dusun (Babi, Rioeng, Biti, Tjitjir, Ramoe dan Tjongkar). Kepada seluruh Dalu (kepala kampung) yang dilewati oleh rombongan pasukan kesultanan Bima yang dipimpin oleh raja Turteli Bolo selaku yang mewakili Sultan Bima, diharuskan bersumpah dan meminum air pembasuh keris tatarapang yang dipakai oleh Anangguru (Ketua Pasukan) Sape La Nipa serta disumpah bahwa "dengan sejujur-jujurnya bahwa kami sekalian menyatakan, hanya tanah Bima menjadi Nyawa, Tanah Manggarai jadi Tubuh, Tanah Bima jadi angina, Tanah Manggarai menjadi Hamba, sekalian isinya jadi daun dan kayu. Demikian pesan orang tua-tua terdahulu hingga sekarang". Dalam berbagai catatan naskah kuno yang ada di Bima tidak disebutkan berapa Dalu yang disumpahi dan kemudian ditaklukan dengan tanpa perlawanan maupun peperangan. "…Demikian pesan orang tua-tua kami terdahulu…" yang dimaksudkan adalah keturunan dari Makipiri Solo (anak dari Manggampo Donggo) yang sebelumnya telah melakukan penaklukan tanah Manggarai. Dari berbagai buku tidak terdapat catatan kapan tepatnya Makapiri Solo Menaklukan tanah-tanah Timur (Solo, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai, dan Komodo). Hanya dikatakan bahwa Makapiri Solo melakukan penaklukan tersebut atas perintah ayahanda-nya yaitu Mawa'a Bilmana yang merupakan Raja Bima ke- 11. kemudian menjadi Tureli Nggampo (Raja Bicara). Makapiri Solo berupaya meluaskan kerajaan yang kemudian menjadi tradisi hingga pada kepemimpinan Sultan ke- 2 (Abi'l Khair Sirajuddin), Mantau Uma Jati. Selama itu pula tanah-tanah Timur dating ke Bima membawa upeti hingga sampai masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadim (yang memerintah pada tahun 1736) Dari catatan sejarah yang ditemukan bahwa menaklukan kembali Reo dan Pota oleh kesultanan Bima adalah akibat adanya gerakan kudeta/pemberontakan yang dilakukan oleh Daeng Tamimang yang bergelar Papu (sebutan bagi pimpinan orang Goa di Manggarai). Hampir seluruh distrik di Reo dan Pota yang dipimpin oleh Dalu (kepala Kampung di Reo) dikuasai oleh Papu. Sehingga misi penaklukan kembali tersebut adalah membinasakan orang Mengkasara (Makassar). Sedangkan dari beberapa catatan sejarah yang ada, tidak ada sikap tegas dari Sultan Goa Sirajuddin yang pada saat itu menjadi sultan di Goa. Sebab Papu adalah perwakilan Kesultanan di Goa di Manggarai yang diangkat oleh sultan itu sendiri. Merunut pada sejarah yang terjadi bahwa Manggarai adalah pertanda Raja Goa dan Raja Bima esa, maka hamba Raja Bima dan Raja Goa adalah satu jua adanya (Manggarai adalah symbol persaudaraan masyarakat Goa dan Bima). Dari catatan Lontara Goa yang kemudian dicocokan dengan BO' Sangaji Kai bahwa raja Goa Tumenanga Rasorayu datang ke Bima (tidak ada penjelasan Tahun), bertemu dengan raja Bima sultan Abdul Kahir (Sultan Bima ke- 1 Mantau Bata Wadu) yang memerintah pada tahun 1620-1640. Pada saat itu diberikannya wilayah Pota sampai Sungai Ramo kepada Sultan Bima. Pada saat Abi'l Khair Sirajuddin atau Mantau Uma Jati memerintah ( 1640-1682) memberi tanah Reo tersebut (untuk dikelola) kepada cucu tirinya Karaeng Bontowa hingga Barie, tetapi isi dan upetinya tidak pernah dibagikan kepada Sultan Bima. Kemudian tanah tersebut dikembalikan lagi kepada Sultan Bima Hasanuddin Muhammad Ali Syah atau Mabata Bou. Sultan Hasanuddin Muhammad Ali Syah yang menikah dengan Karaeng Bissangpole menyerahkan tanah Reok yang dikembalikan tadi kepada adik istrinya yaitu Daeng Mambila dan Daeng Mangakili. Pada saat tanah Reok diserahkan kepada Mamora yaitu anak dari Daeng Mangaliki (yang telah dipengaruhi oleh Belanda) berusaha menguasai tanah Manggarai dengan sewenang-wenangnya. Hingga pada akhirnya Sultan abdul Kadim mengambil kembali tanah Reok tersebut dibawah penguasaan kesultanan Bima yang diwakili oleh Tureli Bolo dan kemudian dilanjutkan oleh Tureli Donggo. Ketika masa penaklukan kembali tanah Manggarai oleh Kesultanan Bima (1760 – 1769). Sultan Bima Abdul Kadim melakukan perjalanan dari Bima menuju Reo dan Pota dua kali. Sedangkan Sultan Goa tidak pernah sekalipun datang. Perjalanan pertama tidak tercatat dalam catatan naskah Kuno sejarah Bima. Sedangkan perjalanan ke dua adalah perjalanan bersama rombongan perang yang cukup banyak dalam rangka menjatuhkan benteng Pota dan Benteng Pawo yang bersikeras menentang pasukan Bima. Yang kemudian setelah ditaklukan, sultan Bima melanjutkan perjalanan menuju Goa. Ada catatan yang belum pernah terjawab yaitu ketika Gubernur Belanda bertanya kepada sultan Abdul Hamid yang berkunjung ke Makassar pada tahun 1792 (21 Tahun Kemudian) dengan menggunakan perahu Waworada (perahu yang sama digunakan oleh sultan-sultan sebelumnya). Pertanyaan Gubernur Belanda tersebut adalah tentang keadaan Manggarai dan Pemberontakan yang dilakukan oleh Jeneli Sape. Sedangkan dalam beberapa catatan Kuno ketika Manggarai ditaklukan kembali pada tahun 1769 hingga 1792 tidak pernah lagi dibahas/dicatat Catatan Sejarah Yang Tidak Pernah Terungkap Ketika Tim Peneliti melakukan eksplorasi di Manggarai, Tim melakukan interview dengan beberapa warga Reo yang diakui sebagai keturunan Galarang Dara, Galarang Sakuru, Galarang Mange Maci, Galarang Sape, Galarang Wera serta Galarang Santi yang kini mendiami Reo. Data lisan tersebut menjadi data awal peneliti. Atas kesaksian turun temurun tersebut, di Pota terdapat puing ASI POTA, 30 % bangunan fisik masih bias dikenal. 20 % sisa terbakar dan 50 % telah dirubuhkan dan kemudian diatasnya dibangun perkantoran. Pengakuan dari para keturunan Galarang – galarang di Reo, bahwa masih terdapat Naskah Kuno yang merupakan catatan sejarah yang sempat diselamatkan ketika ASI Pota terbakar. Dan yang bertanggungjawab terhadap pemeliharaan Naskah Bima Kuno tersebut adalah dari keturunan Galarang Mangge Maci (hal ini sesuai dengan pernyataan: "…banyak Naskah BO' pernah disusun di Reok pada tahun 1781 atas perintah Wakil Raja Bima di Manggarai, termasuk naskah `Makassar III'…; hal xxxi – xxxii; BO' Sangaji Kai). Catatan naskah Kuno sejarah Bima yang diyakini oleh masyarakat Reo tersebut masih ada. Yang merupakan titik terang untuk mengetahui sejarah berdirinya ASI Pota maupun Tapak Tangan `Kahampa' yang ada di Reo. Termasuk untuk mengungkap identitas keberadaan dan nama asli Makapiri Solo yang juga diyakini oleh masyarakat Reo sebagai orang yang diutus oleh kerajaan Bima kemudian melakukan penimbunan terhadap teluk kendindi yang kemudian menjadi daratan Reo (sebelumnya Reo adalah Reok yang merupakan bagian teluk Ramo). Keberadaan makam para Turelui, para Anangguru, para Bumi maupun para Galarang yang ada di Reo merupakan bukti otentik sejarah yang hingga saat ini belum terkuak. Ketika Sebuah Misteri Terbongkar Rangkuman dibawah ini merupakan asumsi Tim peneliti yang di senergiskan dengan beberapa catatan sejarah yang ada. Baik catatan dari beberapa buku yang ada di Manggarai, Makassar maupun Bima. Dari data serta penjelasan tersebut diatas bahwa daerah Reo merupakan tapak sejarah Mbojo yang diendapkan oleh oknum-oknum tertentu yang tidak ingin menjadikan Manggarai sebagai bagian dari sejarah Bima. Sejarah yang tidak pernah diungkap selama 1969 – 1792 (21 Tahun) dalam berbagai literature sejarah, akan coba kami ungkap sedemikian rupa. Manggarai adalah sebuah pulau yang kemudian disebut sebagai pulau Flores (NTT). Terdapat tapak sejarah Bima didaerah tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya ASI Pota Mbojo serta Tapak Tangan Kahampa, ada juga makam-makam kuno yang di yakini sebagai makam para petinggi kesultanan Goa dan kesultanan Bima. Yang lebih identik lagi adalah nama-nama kampong di kec Reo kab Manggarai Tengah menggunakan nama-nama dalam bahasa Mbojo. Misalnya, kampung Bari (Baris), kampung Sigi, kampung Naru, kampung To'I, dll. Bukankah itu adalah sebuah kejelasan adanya keterkaitan antara Bima dan Reo? Namun setelah 21 tahun kemudian (1769-1792) Reo mulai terlupakan. Tidak pernah lagi dibahas dalam catatan Bo' sangaji Kai maupun beberapa buku yang lain. Manggarai diidentikan dengan Donggo, hal itu ketika kita masih mengingat umpatan-umpatan seperti `nggomike pakaro bune dou manggarai', ` sampula nggomike bune dou manggarai'. Dari umpatan tersebut ada kesengajaan sejarah yang tengah diendapkan. Tanpa kita mengetahui kenapa disebut `manggarai ` dalam umpatan-umpatan tersebut. Sebagian para sejarahwan mengatakan bahwa Manggarai adalah tempat pembuangan bagi orang-orang istana kesultanan Bima. Namun dari catatan dan data yang terhimpun, Manggarai hampir sama dengan Tambora, yaitu daerah `mutasi' bagi para petinggi kesultanan yang tidak disukai oleh raja atau mungkin oleh kalangan dalam istana. Jika hal tersebut dibongkar maka aib bagi kesultanan. Sama halnya ketika seminar internasional budaya Mbojo di ruang sidang DPRD Kab Bima pada bulan april 2008 Lalu. Salah seorang narasumber, ahli Naskah kuno dari Universitas Airlangga Surabaya menemukan sebuah catatan hubungan antara kesultanan Bima dengan Kerajaan Malaka (Singapura) pada masa kepemimpinan Sultan Ismail Muhammad Syah (1817-1854). Dalam naskah kuno tersebut dijelaskan bahwa Sultan Ismail pernah melakukan hubungan dagang Opium dan Budak Wanita dengan singapura. Belum selesai dibahas, narasumber lain menyela dan merampas mix yang dipakai oleh narasumber tadi dihadapan para peserta seminar internasional tersebut. Kenyataan lain, bahwa Tapak Tangan `Kahampa' adalah jejak prasasti sejarah Dana Mbojo yang terjadi pada jaman Naka (Jaman Batu). Pada jaman tersebut di Dana Mbojo terdapat kerajaan yang bernama kerajaan KALEPE yang ada di Parado (ilustrasi kerajaan Kalepe baca artikel, Dou Mbojo Atau Dou Bima Kah Kita?). Puing-puing bangunan kerajaan Kalepe tersebut masih ada sampe sekarang, namun catatan sejarahnya tidak pernah ditulis atau dipublikasikan karena berkaitan dengan keberlangsungan kesultanan Bima. Beberapa Budayawan muda local Bima yang berangkat untuk meneliti keberadaan istana kerajaan Kalepe di Parado dilarang oleh Camat Parado dengan alasan yang tidak jelas. Tapak Tangan Kahampa secara historiografi merupakan prasasti jaman Batu (masa Naka; belum mengenal baca dan tulis). Namun beberapa sumber menjelaskan bahwa Tapak tersebut adalah tapak tangan Sultan Bima dalam rangka symbol persaudaraan antara Bima-Goa-Manggarai. `Kahampa' diartikan bahwa `hanya sampai disini pertumpahan darah antara masyarakat Goa-Bima-Manggarai terjadi' Hingga tulisan ini diturunkan, Kami (TSC-Makassar) sedang dalam proses pengumpulan data akhir serta perangkuman penelitian untuk dijadikan Buku. Insyaallah buku yang kami beri Judul ASI POTA & TAPAK KAHAMPA `Sebuah Misteri Tapak Sejarah Mbojo Yang Belum Terungkap'. Akan kami Louching pada penutupan HUT Dana Mbojo ke 367 (5 Juli 2008). Semoga buku tersebut bermanfaat dan menjadi perangkai sejarah Mbojo yang terbengkalai selama ini. Sebab ada kesan bahwa buku BO' Bicara Kai (catatan Ruma Bicara atau perdana Menteri) sengaja diendapkan oleh pihak kesultanan untuk menutupi beberapa aib yang pernah terjadi dalam sejarah Bima. Karena sesuatu yang tidak mungkin apabila BO' Sangaji Kai yang sama tempat penyimpanannya dengan BO' Bicara Kai, selamat dari peristiwa ASI Mbojo terbakar pada tahun 1920-an. Sedangkan BO' Bicara Kai tidak terselamatkan. Terima Kasih

Read »

Stuktur Sosial Masyarakat Adat Mbojo

Pangkat dan Gelar Kesultanan Bima

Pangkat dan Gelar Kesultanan Bima, Dalam Kehidupan Sosial masyarakat Bima mengenal stratifikasi atau lapisan Masyarakat, yang mana stratifikasi sosial tersebut terbagi atas 4 tingkatan yaitu Raja (ruma), bangsawan, dari dan rakyat biasa, mengutip beberapa sumber Predikat Ruma disandang oleh mereka yang berasal dari keturunan Raja atau Sultan Bima (Londo Sangaji), yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang pernah menjadi Raja, Permaisuri, Anak, keluarga keatas dan kesamping dari silsilah. itulah yang di sebut londo ruma atau sangaji (keturunan raja). sebagai catatan bila seorang raja atau anak raja menikahi wanita dari golongan lain maka stratifikasi wanita tersebut berubah menjadi ruma.

Kelas bangsawan adalah mereka yang berasal dari golongan dibawah raja, mereka adalah pejabat tinggi kerajaan atau kesultanan. umumnya mereka di panggil Dae atau’Dae yang ikuti dengan nama yang bersangkutan. dismping keturunan para pejabat dan abdi kerajaan, penyebutan Dae juga diberikan pada mereka yang memiliki kemampuan tertentu sebagai bentuk penghormatan misalnya pada guru maupun pejabat.

Golongan ‘Dari’ adalah mereka yang awalnya dari kelas masyarakat biasa namun kemudian diangkat tuk bekerja sesuai keahlian dan kemampuan tertentu, Dari dianggap sebagai golongan masyarakat tersendiri yang biasanya diangkat bekerja sebagai pegawai rendahan, pesuruh maupun tukang didalam maupun diluar Istana.

Beberapa Pangkat dan Gelar Kesultanan BimaCatatan:
Daftar ini memuat pangkat dan gelar Bima dalam jumlah terbatas saja. Sara Sara Tua, dan Sara Hukum adalah ketiga badan yang membentuk Majelis Adat Dana Mbojo.

Ama Ka’u, gelar anak lelaki dari bangsawan tinggi, bila ayahnya bangsawan tinggi dan ibunya bangsawan tinggi juga atau setingkat lebih rendah dari ayahnya.; lih. Ina Ka’u.

Anangguru, pangkat menengah; dicatat disini para anangguru yang menjadi anggota Majelis Adat, atau kepala satu kelompok masyarakat lain dari satu dari (para anangguru  kepala dari dapat di lihat dalam daftar dari) 
Anangguru Kapitan, Perwira sepasukan lasykar yang khusus memakai senapan.

Anangguru Latunang,  perwira sepasukan lasykar bersenapan; pangkatnya setingkat lebih rendah dari anangguru capital.

Anangguru Mangaji, kepala dari mangaji ; ada dua : tua dan sampela, kedua-duanya anggota sara hukum

Anangguru Mantero (kepala para matros kapal atau para kelasi perahu).

Anangguru Mbodane’e (mengepalai semua Anangguru Mboda)

Anangguru Mbodasambicarakai
, kepala pesuruh raja bicara .

Anangguru Mpa’a, petugas yang mengurus tari-tarian istana (pria dan wanita) terutama yang bernilai klasik

Anangguru Robo, kepala dari marbot yang memilihara mesjid kerajaan .

Anangguru sape, Anggota anggota sara tua.

Anangguru Sumpi, perwira yang memimpin lasykar bersumpit ; ada dua, yakni  AS Bolo dan Mbojo; kedua-duanya anggota sara tua.

Anangguru Wera, Perwira lasykar dari wera.

Bata Dadi, pengurus sawah sultan

Bata Jero, angkat ertukangamn ;bawahan bumi jero.

Bata Juru, pesuruh di istana; pembantu syahbandar

Bata  Kangonga; pengawal rumah Raja Bicara

Bata Nggampo, pengawal dan pesuruh di istana .

Bilal mesjid raya  Bima
, sebanyak 8 orang, anggota sara hokum

Bumi Bajangkara, pengawal istana

Bumi Baralau, pengawal istanaberpangkat perwira.

Bumi Batambani, pengawal Istana

Bumi Cendawa, pejabat bertugas di bidang obat bedil dan masalah percampuran obat , ia termasuk dalam dari Ndora.

Bumi cenggu, pejabat yang mewakili  masarakat cenggu dan sekitar di dalam Mjelis Adat .

Bumi Jara
, Bupati pasukan berkuda ;ada tiga, yakni BJ Bolo, Mbojo, dan Nggampo mereka  adalah  anggota sara – sara.

Budi Jara Tolotui, pengurus tanah garapan  di seeebelah barat dan timur teluk bima; ada dua, yakni BJT  bolo (yang mengurus tanah di sebelah barat teluk yaitu wilayah bolo dan donggo ) dan BJT Mbojo (mengurus tanah di timur teluk ,yaitu wilayah Wera, wawo, sape,rasana’e, na’e).

Bumi Jero, kepala perrtukangan.

Bumi Karombi, kepala pertukangan.

Bumi Keli
, anggota sara sara; di bawahnya Bumi Ncawu keli bertugas dalam masalah tukang kayu dan mengawasi hutan jati di keli dan sekitarnya (termaksud tololai)

Bumi Lawiu, anggota sara tua

Bumi Luma, pangkat tinggi dalam majelis adat : ada tiga , yakni BL Rasana’e (ketua sara tua).

Bumi Nata
, anggota sara sara , mewakili daerah Nata dan sekitarnya.

Bumi Ncandi, anggota sara sara, mewakili daerah Ncandi dan sekitarnya.

Bumi Ncawu Keli, lih. Bumi Keli.

Bumindora, mengurus masalah kesejantaan kerajaan bima,di atas bumi cendawa;anggota sara tua

Bumi nggampo, mengurus/menyatukan para anggota sara tua yang tak berwilayah di dalam majelis adat

Bumi Nggeko, perwira tertinggi bagi para pengawai istana ;anggota sara tua

Bumi Ngeko, perwira yang mengurus kelasyaran kerajaan bima; ada Dua, yakni BN Bolo dan mbojo ;mereka anggota sara tua.

Bumi Pabise, pengurus kelasykaran laut serta para kelasi dan matros,di bawah perintah bumi renda ; ada dua , yakni BP bolo dan mbojo; mereka anggota  sara tua.

Bumi Pajuri, mengurus para prajurit lasykar; anggota sara tua.

Bumi Pareka, pembantu bumi rendah dalam mengurus dan mengatur lasykar; ada Dua, yakni BP Bolo dan Mbojo; anggota sara tua.

Bumi Parise, penjabat rendah yang mengurus  permainan parise,yaitu permainan ketangkasan dari orang-orang manggarai yang sudah di bebaskan dan biberi tanah pertanian dan kampungf di buncu[kejenelian sape].

Bumi Parisi, penjabat tinggi rendah yang bertugas sebagai sekretaris dan juru bicara kerajaan, sebagai bawahan raja bicara; ada tiga Bolo, Mbojo dan Kae; BP Kae jarang di angkat, dan selalu di perbantukan pada bumi parise yang lain, atau bertindak sebagai juru bahasa di pelabuhan; BP Bolo dan Mbojo itulah yang di sebut dalam bo’ sebagai juru tulis bicarakai;mereka pada umumnya berasal dari keturunan melayu {dari paranaka} dan menjadi sara tua.

Bumi partiga
, petugas di istana; anggota sara tua.

Bumi Punti, petugas di istana; anggota sara tua.

Bumi Renda, pimpinan tertinggi lasykar kerajaan merangkap jaksa;anggota sara tua.

Bumi Roka, anggota sara tua.

Bumi Rompo, anggota sara tua;mewakilin masyarakat rompo dan sekitarnya.

Bumi sakuru, pangkat pertukangan kayu;anggota sara tua.

Bumi sambanta, anggota sara tua.

Bumi Sampoi
, pimpinan kelompok gendang dan silu kerajaan;dibantu oleh jena sampoi.

Bumi Sari, ada, yakni BS mbojo,ntonggu dan sape;mereka adalah anggota sara tua.

Bumi Silu, permain silu kerajaan; ada dua,yakni  BS bolo dan mbojo; mereka dibantu oleh dua peringkat adat lagi, yaitu jena silu mbojo dan jena silu bolo.

Bumi Tente
, pangkat menengah;anggota sara tua.

Bumi Tingincai, pangkat rendah di bawah bumi rendah,bertugas mencanangkan berita-berita darurat{menjaga kebakaran,kebanjiran dan bahaya-bahaya lain];juga dengan anak buahnya menjadi algojo.

Bumi tonggorisa, pangkat menengah;anggota sara  tua.

Bumi waworada,pangkat menengah;anggota sara tua.

Cepeweki, pangkat rendah yang bertugas mengawai  tanah pada suatu area.

Imam, anggota sara hukum.

Ina ka’u, gelar anak perempuan dari bangsawan tinggi,yang terlahir dari ayah bangsawan tinggi dari ibu sederajat atau setidak-setidaknya bangasawan menengah;lih ama ka’u.

Ince, nama panggilan [bukan gelar] dari orang keturunan melayu {mly;encik].

Jena, pangkat rendah; setiap jena berada di bawah perintah seorang bumi.

Jena Jara Otuteru, bintara pasukan berkuda;tugasnya membuat tempat makanan kuda;waktu luangnya bertugas  menjaga  istana.

Jena Luma,
pembantubumi luma dan kepala dari sajena luma;ada Dua; yakni Jl Bolo dan mbojo; mereka anggota sara tua.

Jena Mone Na’e, kepala dari sejumlah nenti mone{pengawai istana};anggota sara tua.

Jena Sampoi, pembatu bumi sampoi,anggota rombongan music istana.

Jena Silu, pembantu bumi silu;kedua jena silu yang tertinggi ,yakni  js bolo dan mbojo,membawahi  jena silu yang lain,yang banyak jumlahnya.

Jena Sumpi, bawahan bumi sumpi  dalam kesatuan kelasykaran kerajaan{suba}.

Jena Teke, sultan muda.

Jeneli, salah satu pangkat tertinggi dalam pemerintahan  bima;masing-masing  jenelis bertugas memerintah satu wilayah atau Kejenelian [yang di sebut dalam nama pangkatnya]; pada asalnya ada sepuluh jeneli,yakni jeneli  Belo, Bolo, Donggo, Monta, Parado, Rasana’e, Sape, Wawo, Wera dan Woha; satu kejenelian baru,yaitu jeneli kare,tercipta setelah kerajaan sanggar bergabung dengan bima pada tahun  1928.

Kadi[Qadli], pimpinan sara hokum.

Khatib, ada empat khatib yang  menjadi anggota sara hokum ,yaitu khatib tua , karoto, lawili,dan To’i

Lebe, ada delapan belas lebe yang menjadi anggota sara hokum ,yaitu lebe dalam  Talabiu, Sape, Sila, Ngali,Wera, Wawo, Sakuru, Teke, Dena, Sumi, raba keli,Parado, Karumbu, Cenggu, Raba [Raba Ngodu] dan Mbawa.

Mboda, pangkat rendah;pesuruh,khususnya pesuruh raja bicara.

Ncawu Lati, pejabat rendah di dawah peringkat jena;tetep bertugas di istana.

Nenti Mone, pengawai di istana  berpangkat  rendah;banyak jumlahnya; nenti mone Goa  dan menti mone kaluku  berasal dari goa; semua nenti mone di pimpin oleh nenti Mone  Na’e  dan di kepalai oleh Ompu To’i.

Nentirasa, kepala dusun.

Ompu To’i, kepala urusan dalam istana.

Pata Asi, petugas urusan dan istana, bawahan Ompu To’i.

Patarasa. Kepala  dusun.

Raja Bicara, pangkat perdana menteri;di sebut demikian saja kalau tidak merangkap sebagai tureli nggampo.

Sahbanda, penguasa pelabuhan.

Tonda, pesuruh,khususnya pesuruh jeneli.

Tureli, salah satu pangkat tertinggi dalam pemerintahan Bima. Boleh di samakan dengan menteri;ada tujuan tureli,semuanya menjadi anggota sara sara, yaitu Belo, Bolo, Donggo, Sarado, Sakuru, Woha, serta Tureli Nggampo, yang berjabat sebagai ketua semua tureli, perdana menteri, dan Ketua sara sara.
Read »

Copyright © Kreasi Anak Reggae

Designed by